Di Balik Serangan Israel Terhadap Suriah

Tim : Dzofir 2014 
Jusnawati, Waode Lani Inriani, Noer Afni Badariah

Serangan Suriah

Sejumlah pesawat jet tempur Israel ditembakolehmiliterSuriah dengan rudal anti-pesawat pada jumat (17/3/2017) dini hari di sekitar Lembah Yordan. Rentetan tembakan itu sebagai balasan setelah jet-jet tempur Israel menyerang sejumlah target di wilayah Suriah melalui udara pada kamis malam. Jet-jet tersebut menyerang sebuah pusat riset militer. Salah satu wilayah yang diserang oleh Israel adalah wilayah di dekat bandara Internasional Damaskus. Dan yang lain berada di kota Dimas, dekat perbatasan Libanon. Serangan ini telah menewaskan dan menciderai tujuh orang di wilayah Suriah. 

Akibat menerobos wilayah udara Suriah, dikabarkan satu jet tempur Israel jatuh setelah ditembak jatuh oleh militer Suriah. Militer Suriah juga dilaporkan berhasil merusak sejumlah jet tempur Israel lainnya. Namun, pernyataan militer Suriah dibantah oleh pihak Israel. Pasukan Pertahanan Israel (IDF) menyatakan bahwa tidak ada satu pun jet tempur Israel yang terkena tembakan sistem pertahanan udara Suriah tersebut.Satu rudal Suriah dicegat oleh sistem rudal pertahanan udara Israel. Serpihan rudal Suriah yang dicegat dan dihancurkan ditemukan di seberang perbatasan di sebuah desa di Ibrid, Yordania. 

Kehadiran Israel di wilayah Suriah ternyata bukan untuk menargetkan ISIS atau kelompok teroris lainnya. Israel nekat menerobos wilayah udara Suriah hanya untuk menyerang Hizbullah yang turut berperang di Suriah. Inilah cara Israel bertindak untuk mencegah transfer senjata canggih Iran kepada Hizbullah Libanon. Hizbullah berada di Suriah untuk membantu pemerintahan Bashar Al-Assad memberangus ISIS dan juga kelompok pemberontak. 

Rezim Suriah dipimpin Presiden Bashar Al-Assad mengirim dua surat kepada Sekretaris Jendral PBB dan Kepala Dewan Keamanan (DK) PBB. Dua surat itu berisi permintaan untuk mengutuk agresi Israel terhadap wilayah Suriah. Kedua surat rezim Assad itu dikirimkan oleh Kementrian Luar Negeri Suriah. Menurut Suriah, agresi Israel sudah melanggar hukum internasional, resolusi PBB dan kedaulatan Suriah.

Serangan Israel

Bodyguard Raja Salman


Oleh: Tim Dzofir 2014
(Nunung Utami Islamiah, Athiyyah Rahmah Zamrud, Maolana Saputra)
Pengawal Raja Salman

Sosok pria gundul yang tinggi, tegap, dengan sorot mata yang tajam yang selalu berada di sisi Raja Salman di manapun berada, menjadi salah satu perhatian publik saat Raja Salman dan rombongan malakukan kunjungan ke berbagai negara, termasuk di Indonesia. Sosok itu adalah Brigadir Jenderal Abdul Aziz al-Faghm yang sudah menjadi pengawal Raja Arab selama 11 tahun. Sebagai pengawal pribadi Raja Arab, Brigadir Jenderal Abdul Aziz al-Faghm memiliki kemampuan menjinakkan bahan peledak seperti bom, dan mampu menerbangkan pesawat. Ia juga dikenal dengan sosok yang multitasking. 

Pria berusia 50 tahun ini merupakan lulusan King Khaled Milliatary College pada tahun 1991. Brigjen al-Faghm juga dikenal sebagai salah satu alumni terbaik hingga akhirnya diangkat menjadi brigade khusus Kenegaraan Arab Saudi. Kepiawaiannya dalam dunia militer juga tidak diragukan lagi, setelah berlatih di pasukan elit Amerika Serikat yakni US Army Master Parachutist Jump Wings dan US Navy Master Parachutist Jump Wings. 

Pria yang berperawakan tinggi besar ini tidak hanya memastikan keselamatan raja. Sebagai seorang tentara berpangkat brigadier jenderal, berbagai badge (tanda lulus pendidikan militer) yang telah dimiliki nya antara lain badge Pasukan Khusus serta badge Pasukan Rahasia Anti-Terorisme Saudi. Tak hanya piawai soal bertempur di darat, Abdul Aziz Al-Faghm juga bisa menerbangkan pesawat maupun helikopter dalam kondisi darurat. Hal itu ditunjukkan dari badge Saudi Air Force pilot’s wings yang ia miliki. Lalu, badge Saudi Combat Diver, merupakan bukti bahwa menyelam di laut, adalah kemampuan yang mudah saja baginya Semua badge itu dimilik ioleh Abdul Aziz Al-Faghm melalu pelatihan selama lebih dari 10 tahun. Dengan berbagai pengalamannya, Ia telah menerima banyak penghargaan. Salah satunya penghargaan untuk prajurit tangguh di Saudi yaitu penghargaan Order of Bravery. Ia menerima penghargaan itu tak hanya sekali tapi beberapa kali. 

Sebagai seorang pengawal orang nomor satu di Arab, kesetiaan dan loyalitas Abdul Aziz Al-Faghm tak perlu diragukan lagi. Brigadir Jenderal Abdul Aziz al-Faghm berasal dari keluarga al-Faghm merupakan abdi setia kerajaan Saudi. Sang ayah pun sebelumnya telah mengabdi selama 30 tahun kepada Raja Abdullah yang merupakan kakak dari Raja Salman.

Pengawal Raja Salman

Di Balik Kemegahan Dubai

Kemegahan Dubai

Dubai merupakan negara yang banyak menarik perhatian masyarakat dunia,termasuk di Indonesia. Negara tersebut semakin eksis dengan gedung-gedung megah dan kendaraan-kendaraan mewah.Salah satu sumber kekayaan Dubai berasal dari minyak bumi yang ditemukan sekitar tahun 60-an. Halini sangat membantu perkembangan ekonomi Dubai. 

Dubai dipimpin oleh Syekh Rasyid bin Saeed Al-Maktoum. Iamelihat Dubai tidakbisaterus-menerusbergantungpadaminyakbumi, harusadaalternatiflain yaitu mengeruk muara sungai. Kapal-kapal besar bisa melintasinyadanakanikutmembantumempercepatrodaperekonomian Dubai. Selain itu, dibangun juga infrasturktur pendukunglainnya seperti jalan, perumahan, sekolah dan lain-lain.Hasil yang diperoleh sangat luar biasa hanya dalam beberapa tahun Dubai telah mendatangkan lebih banyak kapal dari luar dibanding dengan Singapura.Investor asingjugasemakin banyak masuk ke Dubai dengan tujuan ingin memperoleh keuntungandarilajuperekonomianDubai. 

Dubai merupakan ke-emir-an yang paling populer diantara enam Emirat yang lain di Uni Emirat Arab.Hal tersebut dikarenakan Dubai didesain sangat mewah.Terdapat proyek prestisius, seperti pengerukan sungai Dubai Creek, reklamasi pantai dengan membuat pulau-pulau baru, kemudian dijadikan properti yang bisa disewa oleh orang asing.Selainitu, pendirian gedung tertinggi di dunia yaitu Burj Khalifa, semakin memantapkan kemewahan Dubai.Tidak lupa hotel dengan interior berlapis emas Burj Al Arabdan pusat perbelanjaan besar. Kebebasan cukainya membuat Dubai semakin banyak menarik pengunjung dari luar negeri. 

Dibalik kemegahan Dubai, terdapat sisi lain yang memprihatinkan berupa area kumuh dan para pekerja miskin yang tinggal di daerah tertentu. Sulit dipercaya tentang kejadian tersebut. Namun itulah fakta yang terjadi. Sebuah fakta mengejutkan, daerah tersebut sangat jarang terekspos. 

Seperti yang diberitakan DetikTravel.com yang dilansir dari BBC mengabarkan tentang keadaan masyarakat miskin di Dubai. Banyak imigran dari luar Uni Emirat Arab seperti China, Bangladesh, Pakistan, dan India yang datang untuk bekerja, misalnya menjadi buruh bangunan. Mereka dijanjikan tempat tinggal yang layak dan makanan gratis, beserta gaji yang lumayan mungkin bisa ditabung dan dikirim untuk keluarga di negara asal. Ternyata, para pekerja imigran kebanyakan ditempatkan di kompleks kumuh yang tersembunyi dari mata wisatawan. Lokasi area kumuh tidak mudah untuk bisa dikunjungi, apalagi bagi para turis mancanegara. Gaji yang didapat juga tidak sesuai dengan perjanjian awal oleh agensi tenaga kerja. Kehidupan disana bisa dibilang kurang layak, kontras kehidupan glamor Dubai yang sering terlihat di TV. 

Dikutip dari Daily mail, salah seorang fotografer asal Iran, Farhad Berahman, mencoba untuk mengungkapkan sisi lain Dubai yang kumuh, panas, dan padat di mana tempat ini dijauhkan dari kemewahan Dubai. Tempat ini juga cukup jauh dari pusat kota, karena dikhususkan bagi mereka yang mencari pekerjaan kasar sebagai buruh bangunan dan lainnya. Kota bernama Sonapur, berisi setidaknya 150.000 pekerja atau buruh, yang kebanyakan dari India, Pakistan, Bangladesh, dan Tiongkok. 

Farhad menjelaskan bagaimana mereka hidup pas-pasan, dengan gaji yang sangat murah untuk ukuran Dubai yang begitu gemerlap dengan kemewahannya. Mereka juga bekerja lebih lama dan yang lebih memprihatinkan lagi, kota ini tidak terdapat di dalam peta Dubai. 

Farhad Berahman berharap kepada masyarakat akan tergerak dan membantu memperjuangkan hak asasi para buruh yang disembunyikan dari kemegahan di Dubai. "Saya pikir memperlakukan manusia begitu kejam adalah Hak Asasi Manusia dan ternyata masih ada di sekitar kita," katanya. "Aku tidak bisa memberitahu siapa pun apa yang harus dipikirkan dari gambar, tapi saya percaya mereka berbicara dari mereka sendiri.

Kemegahan Dubai

Ahok, Raja Arab Saudi dan Jamaah Haji Indonesia

AHOK, RAJA ARAB SAUDI, DAN JAMAAH HAJI INDONESIA
Tim Dzofir    

Basuki Tjahja Purnama (Ahok), Gubernur DKI Jakarta, masih menjadi perhatian dunia. Bagaimana tidak, kasus dugaan penistaan agama yang melilitnya, meski sudah memasuki sidang ke sepuluh belum menemukan titik terang. Berbagai saksi ahli pun turut dihadirkan dalam setiap persidangan, mulai dari ahli agama, ahli bahasa, hingga ahli pidana. Hal tersebut menyedot perhatian banyak kalangan dan institusi. Situasi pun makin memanas. Berbagai spekulasi  terus bermunculan terkait kasus tersebut, bahkan tidak jarang yang menyebarkan berita hoax. Salah satunya adalah kabar bahwa Raja Arab Saudi ke-7, Raja Salman bin Abdulaziz al-Saud, akan membekukan jemaah haji Indonesia, jika kasus penistaan agama belum terselesaikan.    

Kabar pembekuan jemaah haji Indonesia yang banyak tersebar di dunia maya menimbulkan kekhawatiran pada calon jemaah haji dan masyarakat. Kedutaan Besar (kedubes) Arab Saudi pun angkat bicara (11/2) terkait kabar yang melibatkan negaranya. Kepala Biro Media Kedubes Arab Saudi untuk Indonesia, Ahmad Suryana, dikutip dari Liputan6.com mengatakan bahwa, “Guna menanggapi berita hoax yang beredar seputar pernyataan di atas, kedubes Saudi Arabia di Jakarta sekali lagi menegaskan bahwa berita tersebut adalah hoax.”
  
Kunjungan Raja Salman ke Indonesia pada bulan Maret mendatang kembali menimbulkan pertanyaan apakah terkait dengan kasus dugaan penistaan agama oleh Ahok? Terlebih setelah beredar kabar yang mengaitkan Arab Saudi dengan kasus Ahok. Dilansir dari Merdeka.com, disampaikan dalam surat yang ditulis oleh Kedubes Saudia Arabia  di Jakarta 27 Januari 2017 bahwa  kunjungan Raja Salman ke Indonesia dilakukan untuk memenuhi undangan presiden Joko Widodo usai kunjungannya ke Saudi Arabia tahun 2016 silam. Kunjungan Raja Salman rencananya akan berlangsung pada tanggal 1 sampai 9 Maret 2017 dan turut melibatkan anggota parlemen Arab Saudi serta tokoh-tokoh penting. Agenda dalam kunjungan tersebut adalah membahas berbagai bidang kerjasama guna meningkatkan hubungan antara kedua negara.    

Merujuk hal tersebut, jelas bahwa kunjungan Raja Salman semata-mata untuk memenuhi undangan presiden Joko Widodo dan tidak ada keterkaitan dengan kasus dugaan penistaan agama oleh Ahok. Meskipun begitu, tidak menampik kemungkinan adanya agenda lain dalam rencana kunjungan selama sembilan hari tersebut. (Tim Dzofir’14)   

Ahok, Raja Arab, dan Jamaah Haji Indonesia

Negara-negara Yang Mengalami Arab Spring

Arab Spring

Arab Spring atau di istilahkan sebagai musim semi arab merupakan bentuk aksi protes masyarakat terhadap pemerintah negara yang diktator. Arap Spring di mulai ketika seorang pedagan sayur membakar diri di tunisia pada tahun 2010. Akibat dari tindakan tersebut masyarakat kemudian melakukan aksi besar-besaran untuk menjatuhkan pemerintahan diktator tunisia yaitu Ben Ali. Ternyata aksi masyarakat Tunisia menginspirasi masyarakat lain di timur tengah untuk melakukan aksi yang sama terhadap pemerintah mereka. Berikut negara-negara yang terlibat dalam gerakat Arab Spring :

Perhatian !!! Setelah membaca artikel ini diharapkan pembaca agar tidak menjadikan artikel ini sebagai rujukan yang paling benar, carilah artikel lain yang bisa mendukung/menambah hal-hal yang belum tercantun/dituliskan dalam artikel ini. Terimakasih. Jika ada pendapat atau komentar, silahkan masukkan komentar anda di kolom komentar di bawah.

Perbedaan Antara Jazirah Arab, Negara Arab dan Timur Tengah

Banyak anggapan bahwa Jazirah Arab, Negara-Negara Arab dan Timur Tengah mencakup wilayah yang sama. Padahal, istilah-istilah tersebut sebenarnya memiliki perbedaan dari segi cakupan wilayah, budaya/bahasa dan politik. Jazirah Arab digunakan untuk menggambarkan wilayah yang berada pada persimpangan wilayah Afrika dan Asia. Negara-negara Arab merujuk pada negara berbahasa arab yang wilayahnya terbentang dari samudera atlantik di barat hingga laut arab di timur, dan dari laut tengah di utara hingga tanduk afrika dan samudera hindia di tenggara. Sedangkan istilah Timur Tengah digunakan pada wilayah politis yang mencakup Afrika utara dan Asia bagian barat.

Agar lebih jelasnya, Jazirah Arab adalah sebuah semenanjung besar yang berada di Asia Barat Daya yaitu persimpangan antara Afrika dan Asia. Jazirah Arab terbagi menjadi beberapa negara berikut :
  • Arab Saudi
  • Kuwait
  • Yaman
  • Oman
  • Uni Emirat Arab
  • Qatar 
  • Bahrain
Jazirah Arab


Negara-Negara Arab adalah negara-negara Jazirah Arab ditambah sebagian wilayah Afrika Utara dan Asia yaitu Irak. Berikut yang termasuk dalam wilayah Negara-negara Arab :
  • Al Jazair 
  • Bahrain
  • Komoro
  • Djiboti
  • Mesir
  • Irak
  • Yordania
  • Lebanon
  • Libya
  • Mauritania
  • Maroko
  • Oman
  • Palestina
  • Somalia 
  • Sudan
  • Suriah
  • Tunisia
Negara Arab


Timur Tengah adalah istilah yang digunakan oleh penjajah Eropa dan kemudian mengalami perubahan ketika perang dunia II dan didefinisikan kembali oleh komandan militer inggris. Timur Tengah mencakup wilayah Negara-negara Arab di tambah tiga negara berikut :
  • Iran
  • Pakistan
  • Turki
Timur Tengah

Dapat kita simpulkan bahwa Jazirah Arab, Negara Arab, dan Timur Tengah tentunya memiliki cakupan wilayah yang berbeda. Dimana Jazirah Arab hanya mencakup wilayah antara Afrika dan Asia, sedangkan Negara Arab dan Timur Tengah memiliki cakupan yang lebih luas. Perbedaan antara Negara Arab dan Timur Tengah yaitu Negara Arab mencakup negara-negara berbahasa arab sedangkan Timur Tengah lebih luas, yaitu mengambil negara Iran, Pakistan, dan Turki. 

Perhatian !!! Setelah membaca artikel ini diharapkan pembaca agar tidak menjadikan artikel ini sebagai rujukan yang paling benar, carilah artikel lain yang bisa mendukung/menambah hal-hal yang belum tercantun/dituliskan dalam artikel ini. Terimakasih. Jika ada pendapat atau komentar, silahkan masukkan komentar anda di kolom komentar di bawah.

BUKAN DONGENG PALESTINA

Oleh : Fitri De Coresa

Palestina

Desiran angin malam itu berhasil mengibaskan jubah ayah yang sedang berdiri dengan menyilangkan kedua lengan tangannya. Posisinya hanya menjadikan punggungnya sebagai pemandanganku, menceritakanku sebuah dongeng yang amat-sangat fasih mengundang air mataku setiap kali ayah bercerita.

Malam itu Ahad. Yah Ahad, sebab ayah pernah bilang bahwa semua nama-nama hari berasal dari bahasa Arab, Itsnain, Tsalasa, Arba’, Khamzah, Tsaba’ah, kecuali hari Minggu. Entah dari mana asal kata itu. Kalau kata ayah itu berasal dari kata Yahudi. Entahlah. Berangkat dari nama-nama hari tadi, aku selalu saja bahagia setiap malam Ahad datang sebab di waktu itulah ayah akan melanjutkan cerita dongengnya.

“Perang senjata oleh tentara Israel sudah berapa kali melukai penduduk di Palestina. Pertumpahan darah seperti pemandangan biasa.” Begitu ayah menggambarkan dongengnya.

  “Ayah… kata temanku, tentara Israel itu punya banyak senjata. Katanya, mereka kuat. Wah, aku juga ingin punya senjata dan kuat seperti mereka.” Tukasku sambil memainkan pistol air yang ada di tanganku. Wajah ayah berubah. Sedikit memerah. Tangannya mengepal.

“Ayah… ayah… wajah ayah kenapa memerah? Habis makan cabai yah? Hehehe” lanjutku tertawa.
“Syahid, kamu tidak usah seperti mereka. Kamu boleh punya banyak senjata tapi untuk digunakan di jalan Allah, memperjuangkan kaum muslimin.”

Umurku 12 tahun, tapi ayah membekaliku semangat membela kaum muslimin begitu banyak. Angin semakin lincah saja malam itu, jubah hadiah dari ayah yang sedang kukenakan juga ikut terkibas bak ombak bergelombang. Ayah memang selalu saja mengubah penampilanku persis dengan penampilannya, memakai jubah dan kain di kepala. Satu lagi, ayah tidak pernah terpisah dari senjatanya, aku pun begitu. Tapi senjataku kalah besar, milikku berwarna biru dengan kombinasi merah, hanya bisa mengeluarkan air. Aku pernah bertanya kenapa ayah selalu saja membawa senjata? Suatu saat nanti jika tentara Israel datang, ayah akan melawan mereka dengan senjata ini untuk melindungi kamu nak. Begitu penjelasannya yang sering kali terngiang-ngiang di pikiranku. Sesekali aku bingung, memangnya tokoh dalam suatu dongeng itu bisa ada di kehidupan nyata yah?

***

“Syahid, ayah menyayangimu. Ingat pesan ayah, jadilah pembela kaum muslimin ketika tentara Israel datang. Selamatkan tanah ini.” Wajah ayah basah. Kain jubahnya ditarik untuk mengeringkan wajahnya.

Suasana malam itu hening. Beberapa menit tak ada suara. Ayah menyembunyikan wajahnya, tak ingin ketahuan bahwa ia sedang menangis. “Nak, tanah ini namanya tanah syuhada. Di sinilah banyak pejuang-pejuang Islam yang gugur dalam jihad.” Suaranya terbatah-batah dan tersendat-sendat. Aku tau ayah sedang merasakan luka yang sangat dalam. Entah kenapa, malam itu ayah belum melanjutkan dongengnya. Ia hanya bercerita tentang jihad.

Aku menunduk. Air mataku mulai jatuh. Kesedihanku malam itu terasa sama setiap ayah berdongeng.

“Nak, zionis dari Israel selalu saja ingin menguasai wilayah Palestina. Mereka tidak segan-segan membunuh, anak kecil tak berdosa pun mereka emban.” Tiba-tiba kembali ke dongengnya. Menghela napas sejenak lalu menajutkannya. “
…………….. (hening sekian detik)

“Bruk... flakkk... doorrr” Ya Allah, “Ayaaaaaaaaahhhhhh” dunia berubah seketika. Hancur lebur. Porak poranda. Puluhan orang berseragam hitam persis dalam dongeng ayah datang menyerang. Senjatanya diarahkan kepada siapa saja. Ayahku korban pertama. Segera kutarik senjata di tangan ayah. Kukumpulkan tenaga, kutembakkan peluru kepada tentara-tentara itu, tak hanya berfokus ke satu arah. “Allahu Akbar!!!” kukeraskan takbir.

….”Doorr!!!”…. 

“A…a…a…ayah” tubuhku benar-benar lunglai. Kulihat ayah menjulurkan tangannya ke arahku. Segera kuraih, kupeluk ia erat-erat. Sekujur tubuhku berubah warna, merah.

“Sya…hid, a..ayah mau bilang, inilah dongeng ayah se..lama ini. Se..muaaa..nya nyata nak. Ja..dilah penolong bagi tanah ki…ta. Pa…lesti…na, taaanaaah syuhada.” 

“Tidaaaak! Ayaaaaaaaah!!” cerita dongeng ayah telah berakhir seumur dengan usia ayah. Semua manjadi nyata.

***

“Syahid? Bangun nak.”
“Ibu???” pandanganku kabur.
“Nak, kamu terlalu keasikan tertidur.” Ibu menyela-nyela rambutku.
“Ibu, aku memimpikan almarhum ayah.” Pipiku basah.

Makassar, 8 Februari 2016

YASMINE

Oleh : Yusriah Ulfah Winita

Yasmine

Bagaimana perasaan kita saat kita tahu orang yang menyuruh kita pergi adalah orang yang paling takut kehilangan kita? (Hujan Matahari:2014)

***

September 2015, Arab Saudi

“Yasmine? Gadis dingin itu?”

Katakan saja aku jahat. Dalam skenario hidup, memang aku pemeran antagonisnya. Selalu membuat orang lain berdecak kesal, mengumpat atas perbuatanku, semua. Hampir semua yang kulakukan bermakna ‘keburukan’ lazimnya. Biar saja. Aku toh tidak peduli. Lagipula untuk mencapai titik ini aku tidak pernah menyusahkan mereka. Sekalipun tidak butuh bantuan mereka. Bahkan Tuhan tak mengingkari itu.

Hari ini senja ke sekian aku bergabung dengan tim pendamping jamaah haji. Bersama tiga rekan lainnya, kami khusus mendampingi jamaah asal Turki, meskiu aku bukan orang Turki setidaknya penguasaan bahasaku memadai. Dan harus kuakui sebagai peran ‘antagonis’ bahwa kegiatan ini sungguh melelahkan. Membantu jamaah menerjemahkan dialog dengan penjual kain, negosiasi dengan sopir, bukanlah hal menyenangkan. Meski itu berarti kami turut dapat melaksanakan ibadah haji. Sungguh. Sejauh ini aku belum mengerti sebab kami ‘mahasiswa asing’ selalu menjadi penerjemah di musim haji.

“Ada yang lihat bu Rosita?”

Aku yang sedang mengantar tujuh orang jemaah bersama Neyla, menghentikan langkah. Kamar ini kelihatannya dihuni oleh jamaah asal Indonesia. Benar. Dari celah pintu yang terbuka, wajah mereka asli Indonesia. Ah! Apa pentingnya mereka mau jamaah Indonesia, Turki, Malaysia... tidak ada hubungannya denganku.

“Yasmine!”

Suara Neyla sedikit mengagetkanku. Ia bersama tujuh jamaah sudah berdiri sekitar lima meter dariku.

Aku mengangguk pelan, hendak menyusul. Tetapi, tiba-tiba suara alarm membuat kami saling pandang. Kaget. Apa yang terjadi? Entah mengapa aku langsung berlari menghampiri tujuh jamaah tadi dan mengarahkan mereka sesuai intruksi yang telah dipelajari mengenai jalan darurat. Baru saja mereka berdesakan dengan jamaah lain di tangga ketika kulihat Neyla berlari menerobos jamaah. Mau kemana dia?

“Ila aina hiya?”

Itu suara Yazem, teman setimku. Dia asli keturunan Arab. Aku mengangkat bahu sambil terus mengarahkan jamaah. Dan tanpa pernah kupikirkan, Yazem justru ikut berlari menyusul Neyla. Astaga! Aku mendesah dalam hati.

***

Neyla adalah satu dari sekian manusia bodoh yang pernah kutemui. Lihat saja, seminggu setelah tragedi kebakaran, ia masih terbaring tak berdaya di atas ranjang dengan selang infus di tangannya. Jelas tak ada alasan benar kenapa ia dengan bodohnya hendak ‘menyelamatkan’ jamaah yang terjebak api. Untungnya ada Yazem yang menyusul. Kalau tidak, mungkin perempuan itu sudah meregang nyawa. Lalu Yazem sendiri beruntung hanya mengalami luka ringan. Baiklah. Aku masih belum mengerti dengan orang seperti Neyla dan Yazem.

Untuk nyawa orang lain, nyawa sendiri dikorbankan.

Seminggu berikutnya, Neyla sudah diperbolehkan pulang. Jujur aku sedikit lega. Menghabiskan sepanjang hari menungguinya sangat membosankan. Dan ini semua karena ketololanku melaporkan kejadian tersebut pada petugas. Sehingga akulah yang dimintai keterangan sekaligus menjaga mereka, sementara Hasan mendampingi jamaah.

“Aku selalu sedih jika melihat ibu-ibu. Membayangkan seandainya aku bisa merasa kasih sayang seorang ibu,” tutur Neyla. Sekilas ia menghapus ujung mata dengan kerudungnya.

Jika kebanyakan orang luluh hatinya mendengar kisah tentang orang tua, terutama ibu, maka tidak bagiku. Sudah sejak lama sosok ibu tak pernah terlintas walau sedetik di pikiranku. Entah sejak kapan sosok itu lenyap dalam memoriku. Mungkin aku tahu, tapi aku menolak untuk tahu. Karena sosoknya telah terkubur. Jauh. Jauh di dalam dasar jiwaku.

“Aku harus menemui ibu itu, Yasmine.”

Aku mengangkat bahu sambil menguntit Neyla dari belakang. Sibuk dengan ketidakpedulianku. Dan tanpa pernah terpikir, hanya beberapa menit dari sekarang sebuah kejutan telah menantiku. ‘Kejutan’ yang paling tidak ingin aku hadapi. Karena sesungguhnya aku saat ini adalah karenanya.

***

September 2006, Indonesia

“Pergi sana! Jangan pernah tampakkan wajahmu di depanku walau sebatas batang hidung!”

Kak Riana setengah memelukku berjongkok sambil memasukkan helai pakaian kami yang berserakan di lantai ke dalam tas. Saat itu aku sudah berlinang air mata, tidak mengerti dengan apa yang terjadi. Kenapa Bunda tiba-tiba marah besar dan menyuruh kami pergi?

Sumpah serapah dan makian yang keluar dari mulut Bunda tak lagi kudengar. Tangisku makin keras yang membuat para tetangga melongokkan kepala ke rumah kami. Mereka tentu mendengar teriakan Bunda dan tangisanku. Belum selesai kak Riana membereskan pakaian kami, samar-samar kulihat Bunda masuk dan membanting pintu. Bunda yang selama ini kupikir adalah orang paling menyayangiku, malaikat yang dikirim Tuhan, jusrtu mengusirku. Ada apa gerangan?

Aku. Saat itu berusia sepuluh tahun dan belum mengerti apa-apa. Hanya seorang gadis kecil yang berpikir hidupnya baik-baik saja, telah berubah. Berubah. Aku yang berusia sepuluh tahun telah berubah.

***

Oktober 2015, Arab Saudi

“Kau harus menemuinya, Yasmine.”

Aku tak bergeming dari buku tebal yang kubaca.

Neyla sepertinya sudah kebal dengan kekeraskepalaanku. “Ayolah, bagaimanapun dia ibumu, Yasmine. Sekarang dia sedang sakit dan ingin menemuimu.”

Mataku terpaku pada buku, tetepai pikiranku melayang. Kenapa juga Neyla bisa bertemu dengan wanita itu? Ah! Maksudku mereka tidak harus akrab sampai saling tahu masa lalu masing-masing. Ralat. Dari sekian banyak jamaah di sini, tidak seharusnya dia, bukan?

Dialah kejutan yang kumaksud. Bagaimanapun setelah pertemuan tak sengaja sebulan lalu, Neyla terus merecokiku dengan berbagai cerita tentangnya. Seperti biasa aku tidak peduli. Meski aku ingin berteriak kepada Tuhan. Kenapa harus dipertemukan kembali dengannya? Ia yang telah merubah sosokku menjadi seperti ini. menjadi pemeran antagonis, menjadi perempuan jahat tak perperasaan. Semua karenanya.

“Kakakmu, Riana sudah memaafkan kesalahannya di masa lalu. Kenapa kamu tidak? Lagipula dia punya alasan melakukan itu!” suara Neyla mulai meninggi. Tetapi aku sama sekali tidak mau terpengaruh. “Hatimu benar-benar sekeras batu, Yasmine.”

***

Januari 2016, Indonesia

Wanita itu. Wanita yang karenanya aku berubah menjadi seperti ini. Menjadi Yasmine. Wanita yang dulu dengan segenap jiwa menyayangiku, mendongeng tentang kisah nabi Yaqub yang ditinggal anaknya, Yusuf. Penghibur di kala sedu sedanku, selalu melindungiku. Bahkan aku telah berikrar, sosoknya tak kan lekang oleh waktu. Wanita itu, dialah yang kupanggil Bunda.

Hingga hari itu. Entah salah apa yang telah kuperbuat dengan kak Riana. Ia mengusir kami bagai binatang menjijikkan. Membiarkan kami luntang-lantung di jalanan, hingga hidup sedikit berbelas kasih memberi kak Riana pekerjaan sebagai TKW. Setidaknya kami tak lagi pusing memikirkan makan esok hari. Karena itu pula aku bisa mengenyam pendidikan.

Hari ini. Di atas pusaranya, aku berdiri. Matahari terasa menyengat hingga membakar kulitku. Tidak. Hujan mungkin saja mengguyur tubuhku. Akan tetapi, tidak peduli apapun itu, air mataku masih saja tak mau jatuh. Kenapa?

Kata orang, “kasih ibu sepanjang masa, kasih anak sepanjang galah.”