Negara-negara Yang Mengalami Arab Spring

Arab Spring

Arab Spring atau di istilahkan sebagai musim semi arab merupakan bentuk aksi protes masyarakat terhadap pemerintah negara yang diktator. Arap Spring di mulai ketika seorang pedagan sayur membakar diri di tunisia pada tahun 2010. Akibat dari tindakan tersebut masyarakat kemudian melakukan aksi besar-besaran untuk menjatuhkan pemerintahan diktator tunisia yaitu Ben Ali. Ternyata aksi masyarakat Tunisia menginspirasi masyarakat lain di timur tengah untuk melakukan aksi yang sama terhadap pemerintah mereka. Berikut negara-negara yang terlibat dalam gerakat Arab Spring :

Perhatian !!! Setelah membaca artikel ini diharapkan pembaca agar tidak menjadikan artikel ini sebagai rujukan yang paling benar, carilah artikel lain yang bisa mendukung/menambah hal-hal yang belum tercantun/dituliskan dalam artikel ini. Terimakasih. Jika ada pendapat atau komentar, silahkan masukkan komentar anda di kolom komentar di bawah.

Perbedaan Antara Jazirah Arab, Negara Arab dan Timur Tengah

Banyak anggapan bahwa Jazirah Arab, Negara-Negara Arab dan Timur Tengah mencakup wilayah yang sama. Padahal, istilah-istilah tersebut sebenarnya memiliki perbedaan dari segi cakupan wilayah, budaya/bahasa dan politik. Jazirah Arab digunakan untuk menggambarkan wilayah yang berada pada persimpangan wilayah Afrika dan Asia. Negara-negara Arab merujuk pada negara berbahasa arab yang wilayahnya terbentang dari samudera atlantik di barat hingga laut arab di timur, dan dari laut tengah di utara hingga tanduk afrika dan samudera hindia di tenggara. Sedangkan istilah Timur Tengah digunakan pada wilayah politis yang mencakup Afrika utara dan Asia bagian barat.

Agar lebih jelasnya, Jazirah Arab adalah sebuah semenanjung besar yang berada di Asia Barat Daya yaitu persimpangan antara Afrika dan Asia. Jazirah Arab terbagi menjadi beberapa negara berikut :
  • Arab Saudi
  • Kuwait
  • Yaman
  • Oman
  • Uni Emirat Arab
  • Qatar 
  • Bahrain
Jazirah Arab


Negara-Negara Arab adalah negara-negara Jazirah Arab ditambah sebagian wilayah Afrika Utara dan Asia yaitu Irak. Berikut yang termasuk dalam wilayah Negara-negara Arab :
  • Al Jazair 
  • Bahrain
  • Komoro
  • Djiboti
  • Mesir
  • Irak
  • Yordania
  • Lebanon
  • Libya
  • Mauritania
  • Maroko
  • Oman
  • Palestina
  • Somalia 
  • Sudan
  • Suriah
  • Tunisia
Negara Arab


Timur Tengah adalah istilah yang digunakan oleh penjajah Eropa dan kemudian mengalami perubahan ketika perang dunia II dan didefinisikan kembali oleh komandan militer inggris. Timur Tengah mencakup wilayah Negara-negara Arab di tambah tiga negara berikut :
  • Iran
  • Pakistan
  • Turki
Timur Tengah

Dapat kita simpulkan bahwa Jazirah Arab, Negara Arab, dan Timur Tengah tentunya memiliki cakupan wilayah yang berbeda. Dimana Jazirah Arab hanya mencakup wilayah antara Afrika dan Asia, sedangkan Negara Arab dan Timur Tengah memiliki cakupan yang lebih luas. Perbedaan antara Negara Arab dan Timur Tengah yaitu Negara Arab mencakup negara-negara berbahasa arab sedangkan Timur Tengah lebih luas, yaitu mengambil negara Iran, Pakistan, dan Turki. 

Perhatian !!! Setelah membaca artikel ini diharapkan pembaca agar tidak menjadikan artikel ini sebagai rujukan yang paling benar, carilah artikel lain yang bisa mendukung/menambah hal-hal yang belum tercantun/dituliskan dalam artikel ini. Terimakasih. Jika ada pendapat atau komentar, silahkan masukkan komentar anda di kolom komentar di bawah.

BUKAN DONGENG PALESTINA

Oleh : Fitri De Coresa

Palestina

Desiran angin malam itu berhasil mengibaskan jubah ayah yang sedang berdiri dengan menyilangkan kedua lengan tangannya. Posisinya hanya menjadikan punggungnya sebagai pemandanganku, menceritakanku sebuah dongeng yang amat-sangat fasih mengundang air mataku setiap kali ayah bercerita.

Malam itu Ahad. Yah Ahad, sebab ayah pernah bilang bahwa semua nama-nama hari berasal dari bahasa Arab, Itsnain, Tsalasa, Arba’, Khamzah, Tsaba’ah, kecuali hari Minggu. Entah dari mana asal kata itu. Kalau kata ayah itu berasal dari kata Yahudi. Entahlah. Berangkat dari nama-nama hari tadi, aku selalu saja bahagia setiap malam Ahad datang sebab di waktu itulah ayah akan melanjutkan cerita dongengnya.

“Perang senjata oleh tentara Israel sudah berapa kali melukai penduduk di Palestina. Pertumpahan darah seperti pemandangan biasa.” Begitu ayah menggambarkan dongengnya.

  “Ayah… kata temanku, tentara Israel itu punya banyak senjata. Katanya, mereka kuat. Wah, aku juga ingin punya senjata dan kuat seperti mereka.” Tukasku sambil memainkan pistol air yang ada di tanganku. Wajah ayah berubah. Sedikit memerah. Tangannya mengepal.

“Ayah… ayah… wajah ayah kenapa memerah? Habis makan cabai yah? Hehehe” lanjutku tertawa.
“Syahid, kamu tidak usah seperti mereka. Kamu boleh punya banyak senjata tapi untuk digunakan di jalan Allah, memperjuangkan kaum muslimin.”

Umurku 12 tahun, tapi ayah membekaliku semangat membela kaum muslimin begitu banyak. Angin semakin lincah saja malam itu, jubah hadiah dari ayah yang sedang kukenakan juga ikut terkibas bak ombak bergelombang. Ayah memang selalu saja mengubah penampilanku persis dengan penampilannya, memakai jubah dan kain di kepala. Satu lagi, ayah tidak pernah terpisah dari senjatanya, aku pun begitu. Tapi senjataku kalah besar, milikku berwarna biru dengan kombinasi merah, hanya bisa mengeluarkan air. Aku pernah bertanya kenapa ayah selalu saja membawa senjata? Suatu saat nanti jika tentara Israel datang, ayah akan melawan mereka dengan senjata ini untuk melindungi kamu nak. Begitu penjelasannya yang sering kali terngiang-ngiang di pikiranku. Sesekali aku bingung, memangnya tokoh dalam suatu dongeng itu bisa ada di kehidupan nyata yah?

***

“Syahid, ayah menyayangimu. Ingat pesan ayah, jadilah pembela kaum muslimin ketika tentara Israel datang. Selamatkan tanah ini.” Wajah ayah basah. Kain jubahnya ditarik untuk mengeringkan wajahnya.

Suasana malam itu hening. Beberapa menit tak ada suara. Ayah menyembunyikan wajahnya, tak ingin ketahuan bahwa ia sedang menangis. “Nak, tanah ini namanya tanah syuhada. Di sinilah banyak pejuang-pejuang Islam yang gugur dalam jihad.” Suaranya terbatah-batah dan tersendat-sendat. Aku tau ayah sedang merasakan luka yang sangat dalam. Entah kenapa, malam itu ayah belum melanjutkan dongengnya. Ia hanya bercerita tentang jihad.

Aku menunduk. Air mataku mulai jatuh. Kesedihanku malam itu terasa sama setiap ayah berdongeng.

“Nak, zionis dari Israel selalu saja ingin menguasai wilayah Palestina. Mereka tidak segan-segan membunuh, anak kecil tak berdosa pun mereka emban.” Tiba-tiba kembali ke dongengnya. Menghela napas sejenak lalu menajutkannya. “
…………….. (hening sekian detik)

“Bruk... flakkk... doorrr” Ya Allah, “Ayaaaaaaaaahhhhhh” dunia berubah seketika. Hancur lebur. Porak poranda. Puluhan orang berseragam hitam persis dalam dongeng ayah datang menyerang. Senjatanya diarahkan kepada siapa saja. Ayahku korban pertama. Segera kutarik senjata di tangan ayah. Kukumpulkan tenaga, kutembakkan peluru kepada tentara-tentara itu, tak hanya berfokus ke satu arah. “Allahu Akbar!!!” kukeraskan takbir.

….”Doorr!!!”…. 

“A…a…a…ayah” tubuhku benar-benar lunglai. Kulihat ayah menjulurkan tangannya ke arahku. Segera kuraih, kupeluk ia erat-erat. Sekujur tubuhku berubah warna, merah.

“Sya…hid, a..ayah mau bilang, inilah dongeng ayah se..lama ini. Se..muaaa..nya nyata nak. Ja..dilah penolong bagi tanah ki…ta. Pa…lesti…na, taaanaaah syuhada.” 

“Tidaaaak! Ayaaaaaaaah!!” cerita dongeng ayah telah berakhir seumur dengan usia ayah. Semua manjadi nyata.

***

“Syahid? Bangun nak.”
“Ibu???” pandanganku kabur.
“Nak, kamu terlalu keasikan tertidur.” Ibu menyela-nyela rambutku.
“Ibu, aku memimpikan almarhum ayah.” Pipiku basah.

Makassar, 8 Februari 2016

YASMINE

Oleh : Yusriah Ulfah Winita

Yasmine

Bagaimana perasaan kita saat kita tahu orang yang menyuruh kita pergi adalah orang yang paling takut kehilangan kita? (Hujan Matahari:2014)

***

September 2015, Arab Saudi

“Yasmine? Gadis dingin itu?”

Katakan saja aku jahat. Dalam skenario hidup, memang aku pemeran antagonisnya. Selalu membuat orang lain berdecak kesal, mengumpat atas perbuatanku, semua. Hampir semua yang kulakukan bermakna ‘keburukan’ lazimnya. Biar saja. Aku toh tidak peduli. Lagipula untuk mencapai titik ini aku tidak pernah menyusahkan mereka. Sekalipun tidak butuh bantuan mereka. Bahkan Tuhan tak mengingkari itu.

Hari ini senja ke sekian aku bergabung dengan tim pendamping jamaah haji. Bersama tiga rekan lainnya, kami khusus mendampingi jamaah asal Turki, meskiu aku bukan orang Turki setidaknya penguasaan bahasaku memadai. Dan harus kuakui sebagai peran ‘antagonis’ bahwa kegiatan ini sungguh melelahkan. Membantu jamaah menerjemahkan dialog dengan penjual kain, negosiasi dengan sopir, bukanlah hal menyenangkan. Meski itu berarti kami turut dapat melaksanakan ibadah haji. Sungguh. Sejauh ini aku belum mengerti sebab kami ‘mahasiswa asing’ selalu menjadi penerjemah di musim haji.

“Ada yang lihat bu Rosita?”

Aku yang sedang mengantar tujuh orang jemaah bersama Neyla, menghentikan langkah. Kamar ini kelihatannya dihuni oleh jamaah asal Indonesia. Benar. Dari celah pintu yang terbuka, wajah mereka asli Indonesia. Ah! Apa pentingnya mereka mau jamaah Indonesia, Turki, Malaysia... tidak ada hubungannya denganku.

“Yasmine!”

Suara Neyla sedikit mengagetkanku. Ia bersama tujuh jamaah sudah berdiri sekitar lima meter dariku.

Aku mengangguk pelan, hendak menyusul. Tetapi, tiba-tiba suara alarm membuat kami saling pandang. Kaget. Apa yang terjadi? Entah mengapa aku langsung berlari menghampiri tujuh jamaah tadi dan mengarahkan mereka sesuai intruksi yang telah dipelajari mengenai jalan darurat. Baru saja mereka berdesakan dengan jamaah lain di tangga ketika kulihat Neyla berlari menerobos jamaah. Mau kemana dia?

“Ila aina hiya?”

Itu suara Yazem, teman setimku. Dia asli keturunan Arab. Aku mengangkat bahu sambil terus mengarahkan jamaah. Dan tanpa pernah kupikirkan, Yazem justru ikut berlari menyusul Neyla. Astaga! Aku mendesah dalam hati.

***

Neyla adalah satu dari sekian manusia bodoh yang pernah kutemui. Lihat saja, seminggu setelah tragedi kebakaran, ia masih terbaring tak berdaya di atas ranjang dengan selang infus di tangannya. Jelas tak ada alasan benar kenapa ia dengan bodohnya hendak ‘menyelamatkan’ jamaah yang terjebak api. Untungnya ada Yazem yang menyusul. Kalau tidak, mungkin perempuan itu sudah meregang nyawa. Lalu Yazem sendiri beruntung hanya mengalami luka ringan. Baiklah. Aku masih belum mengerti dengan orang seperti Neyla dan Yazem.

Untuk nyawa orang lain, nyawa sendiri dikorbankan.

Seminggu berikutnya, Neyla sudah diperbolehkan pulang. Jujur aku sedikit lega. Menghabiskan sepanjang hari menungguinya sangat membosankan. Dan ini semua karena ketololanku melaporkan kejadian tersebut pada petugas. Sehingga akulah yang dimintai keterangan sekaligus menjaga mereka, sementara Hasan mendampingi jamaah.

“Aku selalu sedih jika melihat ibu-ibu. Membayangkan seandainya aku bisa merasa kasih sayang seorang ibu,” tutur Neyla. Sekilas ia menghapus ujung mata dengan kerudungnya.

Jika kebanyakan orang luluh hatinya mendengar kisah tentang orang tua, terutama ibu, maka tidak bagiku. Sudah sejak lama sosok ibu tak pernah terlintas walau sedetik di pikiranku. Entah sejak kapan sosok itu lenyap dalam memoriku. Mungkin aku tahu, tapi aku menolak untuk tahu. Karena sosoknya telah terkubur. Jauh. Jauh di dalam dasar jiwaku.

“Aku harus menemui ibu itu, Yasmine.”

Aku mengangkat bahu sambil menguntit Neyla dari belakang. Sibuk dengan ketidakpedulianku. Dan tanpa pernah terpikir, hanya beberapa menit dari sekarang sebuah kejutan telah menantiku. ‘Kejutan’ yang paling tidak ingin aku hadapi. Karena sesungguhnya aku saat ini adalah karenanya.

***

September 2006, Indonesia

“Pergi sana! Jangan pernah tampakkan wajahmu di depanku walau sebatas batang hidung!”

Kak Riana setengah memelukku berjongkok sambil memasukkan helai pakaian kami yang berserakan di lantai ke dalam tas. Saat itu aku sudah berlinang air mata, tidak mengerti dengan apa yang terjadi. Kenapa Bunda tiba-tiba marah besar dan menyuruh kami pergi?

Sumpah serapah dan makian yang keluar dari mulut Bunda tak lagi kudengar. Tangisku makin keras yang membuat para tetangga melongokkan kepala ke rumah kami. Mereka tentu mendengar teriakan Bunda dan tangisanku. Belum selesai kak Riana membereskan pakaian kami, samar-samar kulihat Bunda masuk dan membanting pintu. Bunda yang selama ini kupikir adalah orang paling menyayangiku, malaikat yang dikirim Tuhan, jusrtu mengusirku. Ada apa gerangan?

Aku. Saat itu berusia sepuluh tahun dan belum mengerti apa-apa. Hanya seorang gadis kecil yang berpikir hidupnya baik-baik saja, telah berubah. Berubah. Aku yang berusia sepuluh tahun telah berubah.

***

Oktober 2015, Arab Saudi

“Kau harus menemuinya, Yasmine.”

Aku tak bergeming dari buku tebal yang kubaca.

Neyla sepertinya sudah kebal dengan kekeraskepalaanku. “Ayolah, bagaimanapun dia ibumu, Yasmine. Sekarang dia sedang sakit dan ingin menemuimu.”

Mataku terpaku pada buku, tetepai pikiranku melayang. Kenapa juga Neyla bisa bertemu dengan wanita itu? Ah! Maksudku mereka tidak harus akrab sampai saling tahu masa lalu masing-masing. Ralat. Dari sekian banyak jamaah di sini, tidak seharusnya dia, bukan?

Dialah kejutan yang kumaksud. Bagaimanapun setelah pertemuan tak sengaja sebulan lalu, Neyla terus merecokiku dengan berbagai cerita tentangnya. Seperti biasa aku tidak peduli. Meski aku ingin berteriak kepada Tuhan. Kenapa harus dipertemukan kembali dengannya? Ia yang telah merubah sosokku menjadi seperti ini. menjadi pemeran antagonis, menjadi perempuan jahat tak perperasaan. Semua karenanya.

“Kakakmu, Riana sudah memaafkan kesalahannya di masa lalu. Kenapa kamu tidak? Lagipula dia punya alasan melakukan itu!” suara Neyla mulai meninggi. Tetapi aku sama sekali tidak mau terpengaruh. “Hatimu benar-benar sekeras batu, Yasmine.”

***

Januari 2016, Indonesia

Wanita itu. Wanita yang karenanya aku berubah menjadi seperti ini. Menjadi Yasmine. Wanita yang dulu dengan segenap jiwa menyayangiku, mendongeng tentang kisah nabi Yaqub yang ditinggal anaknya, Yusuf. Penghibur di kala sedu sedanku, selalu melindungiku. Bahkan aku telah berikrar, sosoknya tak kan lekang oleh waktu. Wanita itu, dialah yang kupanggil Bunda.

Hingga hari itu. Entah salah apa yang telah kuperbuat dengan kak Riana. Ia mengusir kami bagai binatang menjijikkan. Membiarkan kami luntang-lantung di jalanan, hingga hidup sedikit berbelas kasih memberi kak Riana pekerjaan sebagai TKW. Setidaknya kami tak lagi pusing memikirkan makan esok hari. Karena itu pula aku bisa mengenyam pendidikan.

Hari ini. Di atas pusaranya, aku berdiri. Matahari terasa menyengat hingga membakar kulitku. Tidak. Hujan mungkin saja mengguyur tubuhku. Akan tetapi, tidak peduli apapun itu, air mataku masih saja tak mau jatuh. Kenapa?

Kata orang, “kasih ibu sepanjang masa, kasih anak sepanjang galah.”

Ilmuwan-Ilmuwan Islam yang Merubah Peradaban Dunia

Berikut ini disebutkan beberapa Ilmuan Muslim garda depan yang telah berperan penting dalam perkembangan ilmu pengetahuan moderen saat ini. Anda akan dibuat berdecak kagum saat mendapati bahwa mereka tidak hanya menguasai satu disiplin keilmuan saja, tapi banyak.

Ilmuwan Islam

Ilmuwan Islam Al-Zahrawi ( 325 - 404 H )
Ilmuan yang terkenal sebagai seorang ahli bedah masyhur pada masanya baik di dunia islam maupun kalangan barat. Beliau lahir dan meninggal di Andalusia. Karya-karyanya diterjemahkan kebahasa latin dan berbagai bahasa lainnya. Karya yang paling terkenal adalah Al-Tasrif, yaitu buku yang berisi praktik kedokteran setebal 30 Jilid.

Ilmuwan Islam Ibnu Sina ( 370 - 428 H )
Lahir di dekat Bukhara dan meninggal di Hamadan, Iran. Beliau merupakan seorang Filsuf terkenal, namun selain mendalami ilmu Filsuf, beliau juga seorang dokter, ahli kimia, pakar matematika, dan sastrawan. Karya termasyhurnya berjudul al-Qunun fi al-Thibb. Telah diterjemahkan ke sejumlah bahasa dan menjadi kitab medis paling fenomenal pada Abad pertengahan. Fotonya dipajang di banyak gereja di Eropa dan masi menghiasi aula-aula fakultas kedokteran di Universitas Paris.

Ilmuwan Islam Tsabit Ibn Qarrah ( 220 - 285 H )
Dikenal sebagai ahli Matematika dari arab. Lahir di Haran ( Turki ) dan meninggal di Bagdad. Beliau juga seorang Filsuf, Dokter, dan Ahli Geografi. Peletak batu pertama bagi ilmu perhitungan diferensial dan integral. Memiliki karya di semua disiplin keilmuan klasik.

Ilmuwan Islam Najmuddin al-Mishri ( Abad 7 M )
Seorang ilmuan yang berasal dari Kairo, Mesir. Beliau pernah belajar di Universitas Al-Azhar. Beliau adalah seorang pakar di bidang astronomi dan mengkaji penentuan waktu. Di perpustakaan Oxford, Inggris, tersimpan manuskrip berbahasa Arab milik Najmuddin yang berisi jadwal perbintangan dan berjumlah lebih dari setengah juta nilai perhitungan yang akurat.

Ilmuwan Ibnu al-Nafis ( 607 - 687 H )
Penemu sistem peredaran darah kecil yang dijadikan pijakan bagi Harvey asal Inggris untuk menemukan sistem peredaran darah besar, selang tiga abad setelah kematian Ibnu al-Nafis. Ilmuan yang lahir di Damaskus ini juga seorang Dokter, Filsuf dan ahli Fiqih. Beliau meninggal di Kairo, Mesir.

Ilmuwan Hasan Ibn al-Haytsam ( 354 - 430 H )
Beliau lahir di Bashrah dan meninggal di Kairo. Beliau adalah pakar optik, ahli matematika, dan ahli astronomi. Mempunyai lebih dari 2000 karya tulis.

Ilmuwan Al-Jahizh ( 164 - 255 H )
Seorang sastrawan yang lahir dan meninggal di Bashrah. Selain seorang sastrawan, beliau juga adalah seorang ilmuwan yang andal. Mempunyai lebih dari 350 karya tulis di berbagai bidang keilmuan. Karya paling masyhurnya adalah Kitab al-Hayawan wa al-Bukhala'.

Ilmuwan Jamsyid ( Abad 9 H )
Orang yang pertama memasukkan angka desimal dalam perhitungan. Beliau hidup di Iran. Beliau juga adalah seorang Ahli di bidang Astronomi, ahli Matematikan dan mengamati gerhanda matahari.

Ilmuwan Al-Khawarizmi ( 164 - 232 H )
Matematikawan yang terkenal hingga saat ini. Namanya masih banyak ditulis dalam buku matematika. Beliau lahir di Khawarizmi dan meninggal di Irak. Beliau adalah orang pertama yang menyusun ilmu perhitungan dan penemu angka "nol" (0). Di barat disebut "Matematikawan besar". Selain ahli dalam bidang matematika, beliau juga ahli di bidang astronomi.

Ilmuwan Al-Damiri ( 748 - 808 )
Ilmuan yang lahir di desa Damirah, Mesir, dan pernah belajar di Al-Azhar, lalu menjadi pengajar disana. Beliau adalah ahli biologi, sastrawan, dan penulis Hayat al-Hayawan al-Kubra, buku yang dianggap menggabungkan antara ilmu, sastra, sejarah, dan fiqih.

Ilmuwan Al-Razi ( 251 - 313 H )
Salah satu ilmuan muslim yang menguasai berbagai bidang ilmu sekaligus. Beliau lahir dan meninggal di kota Rayy, dekat Teheran, Iran. Dikatakan, "Kedokteran itu mati sampai Galen menghidupkannya, kedokteran tercerai-berai sampai al-Razi menyatukannya, dan kedokteran tak lengkap sampai Ibnu Sina menyempurnakannya." Karya al-Razi mencapai 224 kitab. Selain seorang dokter, beliau juga seorang Filsuf, apoteker, ahli kimia, matematikawan, dan musisi.

Ilmuwan Ibnu Rusyd ( 519 - 595 H )
Lahir di Cordoba, Spanyol dan meninggal di Marakesh, Maroko. Seorang yang memiliki keahlian Filsafat. Beliau adalah seorang filsuf, ahli astronomi, dokter, komentator buku-buku Aristoteles, dan memiliki posisi terhormat di kalangan penguasa Andalusia. Tapi, karena sebab-sebab tertentu, ia dipenjara beberapa kali, kitab-kitabnya dilarang dan dibakar.

Ilmuwan Al-Syarif al-Idrisi ( 494 - 562 H )
Al-Syarif adalah seorang ilmuan asal Maroko karena beliau lahir dan meninggal disana. Beliau adalah ahli geografi dan penulis Nuzhah al-Musytaq fi Ikhtiraq al-Afaq. Ahli tumbuh-tumbuhan dan juga penulis al-Jami' li Shifat Asytat al-Nabat.

Ilmuwan Al-Battani ( Abad 3 H )
Beliau adalah orang yang pertama kali menggunakan Sinus dan Kosinus dalam perhitungan Trigonometri. Lahir di Haran dan meninggal di Irak. Seorang yang ahli astronomi dan digelari Ptolomeus Arab. Ia menentukan sicara akurat panjangnya tahun dan musim.

Ilmuwan Al-Buzajani ( 329 - 388 H )
Ilmuan yang lahir di Buzajan, Iran, adalah orang pertama menetapkan rumus tangen, juga secan dan cosecan. Sumbangsihnya bagi teori trigonometri tak terbantahkan lagi. Beliau juga ahli matematika dan astronomi. Beliau meninggal di Baqdad, Iraq.

Ilmuwan Ibnu Bathutah ( 704 - 779 H )
Seorang pengembaran dan ahli geografi. Beliau lahir di Tangier ( Maroko ) dan meninggal di Marakesh. Perjalanannya mengelilingi dunia mencapai 120 ribu kilometer selama 38 tahun.

Ilmuwan Al-Biruni ( 362 - 443 H )
Menguasai banyak bidang ilmu, beliau adalah seorang filsuf, sejarawan, dokter, ahli kimia, pakar matematika, dan astronomi. Karyanya mencapai 108 buah kitab. Beliau lahir di Khawarizm dan meninggal di Iraq.

Ilmuwan Ibnu al-Baythar ( 594 - 647 H )
Pakar ilmu tumbuh-tumbuhan, rumput obat, dan farmasi. Beliau lahir di Andalusia dan meninggal di Damaskus.

Ilmuwan Jabir Ibn Hayan ( 103 - 210 H )
Filsuf dan ahli kimia. Konon dinamakan Jabir karena ia mendamaikan antara tradisi kuno dan ilmu modern. Ia guru besar ahli kimia Arab. Menulis 190 buku.

Ilmuwan Al-Khazin ( Abad 6 M )
Berasal dari Byzantium. Pakar matematika, ahli astronomi, fisikawan, dan mekanik. Ia menciptakan alat pengukur berat badan di udara dan air. Perhitungan dan pengukurannya akurat dan tepat.

Daftar Pustaka : A. Ibrahim, Qasim dan A. Saleh, Muhammad.2014.Buku Pintar Sejarah Islam.Jl.Kemang Timur Raya:Zaman

Perhatian !!! Setelah membaca artikel ini diharapkan pembaca agar tidak menjadikan artikel ini sebagai rujukan yang paling benar, carilah artikel lain yang bisa mendukung/menambah hal-hal yang belum tercantun/dituliskan dalam artikel ini. Terimakasih. Jika ada pendapat atau komentar, silahkan masukkan komentar anda di kolom komentar di bawah.

5 Penemuan Muslim yang Mengubah Dunia

5 Penemuan Muslim

Berikut ini 5 Penemuan yang ditemukan oleh orang muslim sehingga mampu merubah dunia. Penemuan tersebut saat ini digunakan untuk membantu manusia dalam menjalankan keseharian mereka.

Perhatian !!! Setelah membaca artikel ini diharapkan pembaca agar tidak menjadikan artikel ini sebagai rujukan yang paling benar, carilah artikel lain yang bisa mendukung/menambah hal-hal yang belum tercantun/dituliskan dalam artikel ini. Terimakasih. Jika ada pendapat atau komentar, silahkan masukkan komentar anda di kolom komentar di bawah.

10 Negara Islam Terkaya di Dunia

Negara Muslim Terkaya

Jika sebelumnya telah dijelaskan 7 Negara Islam Terkaya dan Termakmur di Dunia dalam bentuk Teks, sekarang akan diperkenalkan 10 Negara Muslim Terkaya di Dunia dalam bentuk Video. Selamat menyaksikan.
Perhatian !!! Setelah membaca artikel ini diharapkan pembaca agar tidak menjadikan artikel ini sebagai rujukan yang paling benar, carilah artikel lain yang bisa mendukung/menambah hal-hal yang belum tercantun/dituliskan dalam artikel ini. Terimakasih. Jika ada pendapat atau komentar, silahkan masukkan komentar anda di kolom komentar di bawah.

Menuntut Ilmu Hingga Akhir Hayat

Menuntut Ilmu

Dalam setiap khutbah Jumat, khatib selalu mewasiatkan kepada jamaah untuk menjaga dan meningkatkan ketaqwaan keapada Allah Ta'ala. Taqwa diwujudkan dengan menjalankan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Lahir dari rasa takut dan cinta kepada Allah Ta'ala serta penuh harap akan mengharapkan kebaikan dari-Nya. Para ulama berkata, "Siapa yang paling mengenal Allah, dialah yang paling takut kepada Allah."

Diantara jalan meningkatkan ketaqwaan adalah dengan mau belajar, mau mengaji dan mau menimba ilmu. Belajar ilmu agama atau ilmu syar'i bukan hanya ketika kita masih anak-anak, di TK/TPA atau hanya sekolah di pesantren dan universitas Islam. Bukan. Setiap muslim diwajibkan untuk menuntut ilmu syar'i tanpa terkecuali, sebagaimana hadits Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam:

"Menuntut ilmu wajib atas setiap muslim". ( HR. Ibnu Majah)

Ilmu yang benar akan semakin mendekatkan hamba kepada Allah Ta'ala. Dengannya ia tahu bagaimana menghamba kepada Allah dengan benar dan begitu banyak faidah yang didapatkan seorang hamba yang menuntut ilmu. Sebagaimana Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam:

"Barangsiapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya di antara jalan menuju surga. Sesungguhnya malaikat meletakkan sayapnya sebagaitanda ridho pada penuntut ilmu. Sesunggunya orang yang berilmu dimintai ampun oleh setiap penduduk langit dan bumi, sampaipun ikan yang berada dalam air. Sesungguhnya keutamaan orang yang berilmu dibanding ahli ibadah adalah seperti perbandingan bulan dimalam badar dari bintang-bintang lainnya. Sesungguhnya ulama adalah perwaris para Nabi. Sesungguhnya Nabi tidaklah mewariskan dinar dan tidak pula dirham. Barangsiapa yang mewariskan ilmu, maka sungguh ia telah mendapatkan keberuntungan yang besar" ( HR. Abu Daud )

Ilmu adalah sahabat penyejuk ketika dalam kesendirian. Ilmu adalah sahabat terbaik bagi para pengelana. Ilmu adalah sahabat terdekat yang menyampaikan rahasianya kepadamu. Ilmu adalah pedangmu yang paling ampuh untuk lawanmu, dan terakhir ilmu adalah pakaian yang akan menaikkan derajatmu dalam jamaah persaudaraanmu.

Ilmu juga merupakan benteng dari syubhat dan fitnah, karena dengan ilmu kita dapat menjaga diri dari berbagai syubhat (kekacauan pemikiran) yang menyerang. Tentu di tengah berbagai syubhat di zaman ini ilmu menjadi hal yang lebih dibutuhkan lagi.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman ( Yang artinya ):
"Apakah sama, antara orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui." ( Terjemahan QS. Az-Zumar:9 )

Tentu kita semua bisa menjawabnya dengan mudah, karena ilmu jelas-jelas membedakan antara mereka yang tidak memilikinya.

Menuntul Ilmu Sapai Mati

Ilmu syar'i adalah cahaya penerang bagi kehidupan seorang hamba di dunia menuju ke alam akhirat. maka,barangsiapa menuntut ilmu syar'i dengan niat ikhlas karena Allah dan dengan tujuan agar meraih keridhoan-Nya semata, niscaya ia tidak akan berhenti dan bosan dari menuntut ilmu syar'i sebelum kematian menjemputnya.

Allah Ta'ala berfirman ( yang artinya ): "Beribadalah engkau kepada Allah hingga datang kepadamu kematian." ( Terjemahan QS. Al-Hijr:99 )

Oleh karenanya, Nabi shallallahu alaihi wa sallam senantiasa mengambil ilmu dan menerima wahyu dari Allah semenjak diangkat oleh Allah sebagai Nabi dan Rasul-Nya hingga beliau wafat.

Hal ini sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik radhiyallahu anhu, ia berkata; "Sesungguhnya Allah Ta'ala menurunkan wahyu-Nya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam secara berturut-turut hingga beliau wafat. Dan kebanyakan wahyu itu diturunkan Allah pada hari Beliau wafat." ( HR. Imam Al-Bukhari dan Muslim )

Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah selalu membawa pena dan tinta (untuk mencatat hadtis dan faedah ilmiyah, ) meskipun Beliau telah lanjut usia. Maka Ada seorang yang bertanya kepadanya: "Sampai kapankah engkau berbuat demikian?" Beliau menjawab; "Hingga aku masuk ke liang kubur." ( Lihat Maaqibu Ahmad karya Ibnu Jauzi hal.31 dan Talbiisu Ibliis, Karya Ibnu Jauzi hal.400 )

Beliau juga pernah berkata: "Aku akan terus-menerus menuntut ilmu agama sampai aku masuk ke liang kubur." ( Lihat Syarofu Ashhabi Al-Hadits, karya Al-Khotib Al-Baghdadi hal.136 ).

Abu Ja'far Ath-Thobari rahimahullah menjelang wafatnya berkata: "Sepantasnya bagi seorang hamba agar tidak meninggalkan (kemawajiban) menuntut ilmu sampai ia mati." ( Diriwayatkan oleh Ibnu Asakir di dlama tarikh Dimasqo juz.52 hal.199. Lihat pula Al-Jaliisu Ash-Shoolih karya Al-Mu'afi bin Zakariyah III/222 )

Ada seorang bertanya kepada Abdullah bin Al-Mubarok (ulama tabi'in) rahimahullah: "Sampai kapan engkau menulis (mempelajari) hadits?" Beliau jawab: "Selagi masih ada kalimat bermanfaat yang belim aku catat." ( Lihat Al-Jaami' Li Akhlaaqi Ar-Roowi, karya Al-Khottib Al-Baghdadi IV/419 )

Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah pernah ditanya: "Menuntut ilmu yang lebih kau sukai ataukah beramal?". Beliau menjawab;"Sesungguhnya ilmu itu dimaksudkan untuk beramal, maka jangan tinggalkan menuntut ilmu dengan dalih untuk beramal, dan jangan tinggalkan amal dengan dalih untuk menuntut ilmu." ( Lihat Tasmratu al-'ilmi al 'Amal, hal 44-45 )

Qotadah bin Da'amah As-sadusi rahimahullah berkata: "Sesungguhnya setan tidak membiarkan lolos seorang pun di antara kalian. Bahkan ia datang melalui pintu ilmu. Setan membisikkan, "Untuk apa kamu terus menuntut ilmu? Seandainya kamu mengamalkan apa yang telah kamu dengar, niscaya itu cukup bagimu." Qotadah berkata: Seandainya ada orang yang boleh merasa cukup dengan ilmunya, niscaya Musa 'alaihissalam adalah orang yang paling banyak merasa cukup dengan ilmunya. Akan tetapi Musa berkata kepada Khidr ( yang artinya ), "Bolehkah aku mengikutimu agar engkau bisa mengajarkan kepadaku kebenaran yang diajarkan Allah kepadamu." ( QS. Al-Kahfi:66 )."

Demikianlah tekad kuat dan semangat tinggi para ulama salafus shalih tanpa mengalami futur (kemalasan) dalam menuntut ilmu syar'i. Dan ini tidaklah terwujud pada diri seseorang hamba kecuali dengan niat yang ikhlas karena Allah Ta'ala saja.

Teladan ulama dalam menuntut Ilmu

Beberapa contoh para ulama hadits yang bersemangat tinggi dalam menunttut ilmu syar'i:

Imam Al-Bukhari rahimahullah, imam para ulama hadits, beliau tidak patah semangat dalam mempelajari hadits dan ilmu-ilmu syar'i lainnya meskipun bekal (harta) beliau sangat sedikit, sampai-sampai beliau pernah makan rerumputan. ( Lihat Siyar A'laam An-Nubala;, karya iama Adz-Dzahabi XII/217 ).

Umar bin Abdul Karim Ar-Rowasi rahimahullah pernah pata beberapa jari jemari tangannya dalam perjalanannya menuntut ilmu syar'i dikarenakan cuaca yang sangat dingin. ( Lihat Siyar A'laam An Nubala', karya imam Adz-Dzahabi XIX/318 ).

Imam Malik rahimahullah pernah membongkar atap rumahnya, lalu ia menjual kayunya (sebagai bekal) untuk menuntut ilmu. (Diriwayatkan oleh Al-Khotib Al-Baghdadi di dalam Tarikh Baghdad II/13 )

Pembaca yang semoga dirahmati Allah, marilah kita semua tiada henti menuntut ilmu, hingga akhir ayat. Dimanapun dan kapan pun. Tak terbatas hanya di lembaga-lembaga pendidikan formal maupun dipengajian - pengajian saja. Namun juga dalam setiap hal dan kesempatan yang diberikan oleh kehidupan kita. Karena ilmu pengetahuan adalah puncak segala kebahagian, sebagaimana kebodohan adalah titik awal dari segala keburukan. Keselamatan datang dari ilmu, kehancuran datang dari kebodohan. Semoga Allah memberikan taufiq dan pertolongan-Nya kepada kita untuk selalu istiqamah dan semangat dalam mempelajari dan memahami ilmu syar'i hingga akhir hayat.

Di Terbitkan oleh al-Balagh
Di Poskan oleh www.Kebudayaan-Arab.id
Perhatian !!! Setelah membaca artikel ini diharapkan pembaca agar tidak menjadikan artikel ini sebagai rujukan yang paling benar, carilah artikel lain yang bisa mendukung/menambah hal-hal yang belum tercantun/dituliskan dalam artikel ini. Terimakasih. Jika ada pendapat atau komentar, silahkan masukkan komentar anda di kolom komentar di bawah.